Saya bisa ini,ini, dan banyak ini lagi
Tapi belum tentu saya bisa itu, itu dan banyak itu lagi
Lalu apa ini, ini pantas dibangakan, sedangkan itu, itu, itu masih bnyk itu yg lain
Ini itu bukan hal yg disombong
Ini atau itu, boleh lah dibangakan
Karena si itu belum tentu bisa
Yang si ini bisa, begitu juga sebaliknya
ini dan itu seharusnya saling melengkapkan
Biar menjadi sini situ
Atau situ sini
#ini itu cuma iseng sini saja situ jng ikut2 atuh :@
27.8.13
sini situ
Pada suatu hari saya bertemu dengan siini
Siini bercerita tentang siitu
Mulai dari hal ini, ini, sampai itu itu
Tentang siitu
Pada hari yang lain saya bertemu dengan siitu
Siitu bercerita tentang siini
Mulai dari hal itu,itu sampai ini, ini
Tentang siini
Lalu saya bingung apa kah pada hari itu,ini, saya bertemu dengan siini atau siitu
Atau saya yang telah menjadi siini, siitu
Yang berbicara tentang siini ataau siitu
#situ suka ngomong tentang siini kan, sini juga sama senang ngomongin siitu ko :@
Siini bercerita tentang siitu
Mulai dari hal ini, ini, sampai itu itu
Tentang siitu
Pada hari yang lain saya bertemu dengan siitu
Siitu bercerita tentang siini
Mulai dari hal itu,itu sampai ini, ini
Tentang siini
Lalu saya bingung apa kah pada hari itu,ini, saya bertemu dengan siini atau siitu
Atau saya yang telah menjadi siini, siitu
Yang berbicara tentang siini ataau siitu
#situ suka ngomong tentang siini kan, sini juga sama senang ngomongin siitu ko :@
4.4.13
Ayat-Ayat Api: Kumpulan Sajak
Ayat-Ayat Api: Kumpulan Sajak
Pengantar
Kumpulan sajak ini terdiri atas tiga bagian. Bagian pertama berisi sejumlah sajak — yang sudah diubah di sana-sini, yang pernah dimuat dalam Sihir Hujan, Kuala Lumpur, 1984. Bagian kedua adalah sejumlah sajak yang pernah terbit terbatas dalam rangka pembacaan puisi di Pusat Kebudayaan Jepang, 1998. Bagian ketiga adalah sejumlah sajak yang ditulis tahun 1998-1999, belum pernah terbit sebagai buku.
Saya sampaikan terima kasih kepada Pustaka Firdaus yang bersedia menerbitkan buku ini dengan pertimbangan, antara lain, bahwa tahun ini saya — alhamdulilah — sudah berumur 60 tahun.
Sapardi Djoko Damono
********
Sunyi Yang Lebat
sunyi yang lebat: ujung-ujung jari
sunyi yang lebat: bola mata dan gendang telinga
sunyi yang lebat: lidah dan lubang hidung
sunyi yang dikenal sebagai hutan: pohon-pohon yang roboh,
margasatwa membusuk di tepi sungai kering, para
pemburu mencari jejak pancaindra...
Pada Suatu Magrib
Susah benar menyeberang jalan di Jakarta ini;
hari hampir magrib, hujan membuat segalanya tak tertib.
Dan dalam usia yang hampir enam puluh ini,
astagfirulah! rasanya di mana-mana ajal mengintip
Tentu. Kau Boleh
Tentu. Kau boleh saja masuk,
masih ada ruang
di sela-sela butir-butir darahku.
Tak hanya ketika rumahku sepi,
angin hanya menyentuh gorden,
laba-laba menganyam jaring,
terdengar tetes air keran
yang tak ditutup rapat;
dan di jalan
sama sekali tak ada orang
atau kendaraan lewat.
Tapi juga ketika turun hujan,
air tempias lewat lubang angin,
selokan ribut dan meluap ke pekarangan,
genting bocor dan aku capek
menggulung kasur dan mengepel lantai.
Tentu. Kau boleh mengalir
di sela-sela butir darahku,
keluar masuk dinding-dinding jantungku,
menyapa setiap sel tubuhku.
Tetapi jangan sekali-kali
pura-pura bertanya kapan boleh pergi
atau seenaknya melupakan
percintaan ini.
Sampai huruf terakhir
sajak ini, Kau-lah yang harus
bertanggung jawab
atas air mataku.
Dalam Setiap Diri Kita
Dalam setiap diri kita, berjaga-jaga
segerombolan serigala.
Di ujung kampung, lewat pengeras suara,
para kyai menanyai setiap selokan,
setiap lubang di tengah jalan,
dan setiap tikungan;
para pendeta menghardik setiap pagar,
setiap pintu yang terbuka,
dan setiap pekarangan.
Gamelan jadi langka. Di keramaian kota
kita mencari burung-burung
yang diusir dari perbukitan
dan suka bertengger sepanjang kabel listrik,
yang mendadak lenyap begitu saja
sejak sering terdengar
suara senapan angin orang-orang berseragam itu.
Entah kena sawan apa, rombongan sulap itu
membakar kota sebagai permainannya.
DONGENG MARSINAH
/1/
Marsinah buruh pabrik arloji,
mengurus presisi:
merakit jarum, sekrup, dan roda gigi;
waktu memang tak pernah kompromi,
ia sangat cermat dan pasti.
Marsinah itu arloji sejati,
tak lelah berdetak
memintal kefanaan
yang abadi:
“kami ini tak banyak kehendak,
sekedar hidup layak,
sebutir nasi.”
/2/
Marsinah, kita tahu, tak bersenjata,
ia hanya suka merebus kata
sampai mendidih,
lalu meluap ke mana-mana.
“Ia suka berpikir,” kata Siapa,
“itu sangat berbahaya.”
Marsinah tak ingin menyulut api,
ia hanya memutar jarum arloji
agar sesuai dengan matahari.
“Ia tahu hakikat waktu,” kata Siapa,
“dan harus dikembalikan
ke asalnya, debu.”
/3/
Di hari baik bulan baik,
Marsinah dijemput di rumah tumpangan
untuk suatu perhelatan.
Ia diantar ke rumah Siapa,
ia disekap di ruang pengap,
ia diikat ke kursi;
mereka kira waktu bisa disumpal
agar lenkingan detiknya
tidak kedengaran lagi.
Ia tidak diberi air,
ia tidak diberi nasi;
detik pun gerah
berloncatan ke sana ke mari.
Dalam perhelatan itu,
kepalanya ditetak,
selangkangnya diacak-acak,
dan tubuhnya dibirulebamkan
dengan besi batangan.
Detik pun tergeletak
Marsinah pun abadi.
/4/
Di hari baik bulan baik,
tangis tak pantas.
Angin dan debu jalan,
klakson dan asap knalpot,
mengiringkan jenazahnya ke Nganjuk.
Semak-semak yang tak terurus
dan tak pernah ambil peduli,
meregang waktu bersaksi:
Marsinah diseret
dan dicampakkan —
sempurna, sendiri.
Pangeran, apakah sebenarnya
inti kekejaman? Apakah sebenarnya
sumber keserakahan? Apakah sebenarnya
azas kekuasaan? Dan apakah ebenarnya
hakikat kemanusiaan, Pangeran?
Apakah ini? Apakah itu?
Duh Gusti, apakah pula
makna pertanyaan?
/5/
“Saya ini Marsinah,
buruh pabrik arloji.
Ini sorga, bukan? Jangan saya diusir
ke dunia lagi; jangan saya dikirim
ke neraka itu lagi.”
(Malaikat tak suka banyak berkata,
ia sudah paham maksudnya.)
apa sebaiknya menggelinding saja
bagai bola sodok,
bagai roda pedati?”
(Malaikat tak suka banyak berkata,
ia biarkan gerbang terbuka.)
“Saya ini Marsinah, saya tak mengenal
wanita berotot,
yang mengepalkan tangan,
yang tampangnya garang
di poster-poster itu;
saya tidak pernah jadi perhatian
dalam upacara, dan tidak tahu
harga sebuah lencana.”
(Malaikat tak suka banyak berkata,
tapi lihat, ia seperti terluka.)
/6/
Marsinah itu arloji sejati,
melingkar di pergelangan
tangan kita ini;
dirabanya denyut nadi kita,
dan diingatkannya
agar belajar memahami
hakikat presisi.
Kita tatap wajahnya
setiap hari pergi dan pulang kerja,
kita rasakan detak-detiknya
di setiap getaran kata.
Marsinah itu arloji sejati,
melingkar di pergelangan
tangan kita ini.
(1993-1996)
Ayat yang mengandung banyak kemuraman, kemarahan, kesediahan
"Api adalah lambang kehidupan, itu sebabnya kita luluhlantak/ dalam kobarannya (p.133)
3.4.13
Catatan Subversif
Membaca kumpulan sajak "Catatan Subversif" Saut Situmorang, seakan merefleksi lagi perjalan - perjalan yang telah di lalui Negeri ini maupun pengalaman pribadi dari Saut Situmorang. Sajaknya menangkap peristiwa - peristiwa yang telah terjadi dan masih terjadi. Ini adalah kumpulan realitas yang di bingkai kata -kata dan dituturkan dengan gaya bercerita yang unik,khas dan "keras", walaupun setiap sajak penuh dengan muatan tapi tetap bisa disampaikan dengan "indah"bahkan bisa jadi menyentuh pembacanya.
1966
untuk Jimi Hendrix
dimalam aku lahir
bulan merah api
dan hujan turun
langit merah basah
bumi merah basah
orang orang menangis
orang orang marah
dan orang orang ketakutan
dimalam aku lahir
anjing anjing setan bergentayangan di jalan
mendobrak rumah rumah
dan membunuh dan membunuh dan
membunuh
bulan merah api
malam merah api
rumah rumah dicat merah darah
jalanan merah darah
sungai sungai merah darah
danau danau merah darah
dan mayat mayat rusak terapung
di sungai sungai danau danau merah darah
di bawah hujan merah darah
dimalam aku lahir
21.3.13
Surat Cinta untuk Kisha
Surat Cinta untuk Kisha
by Bintang Berkisah
Spoiler
Bintang Berkisah, terima kasih untuk kiriman bukunya ditunggu kiriman berikutnya.
kebetulan saya mengenal nama sebenarnya dari pemilik akun twitter @bintangberkisah,walaupun saya bukanlah penganut mahzab twitter, justru saya mengenal beliau dari media sosial facebook yang saya anut mahzabnya.
saya tahu beliau ini hobi dengan dunia tulis menulis (kumpulan tulisannya bisa dilihat dihttp://bintangberkisah.wordpress.com/), kicauannya pun selalu menegenai dunia tulisan, dan juga aktif mengadakan lomba tulis menulis.
******
Surat Cinta untuk Kisha, ini
sebenarnya merupakan kumpulan tulisan yang memang dibuat untuk mengikuti salah satu ajang lomba tulis menulis.
Surat Cinta untuk Kisha, sebuah kumpulan serangkaian surat cinta yang dikirimkan "Aku" (Ramu), kepada wanita idaman hatinya sejak masa kanak - kanak (Kisha). Kumpulan surat yang ada merupakan refleksi perjalanan hidup Ramu.
Surat pertama diawali dari kisah perjumpaan pertama kali Ramu dengan Kisha. Ramu yang disinidikisahkan sebagai anak desa yang hidup dengan segala kesederhanaan yang ada, sedangkan Kisha sendiri berasal dari keluarga yang berada, dan karena satu dua alasan mereka terpaksa tinggal didesa. Bagi Kisha desa adalah kehidupan serba baru yang pertama kali dialami, dan tapi selalu Ramu menjadi selalu menjadi pendamping setia, mengajarkan kehidupan pedesaan. Ramu belajar mengungkapkan perasaan cintanya yang diawali oleh rasa persahabatan.
Benturan kaya vs miskin, kota vs desa, islam vs kristen, seakan menjadi tanda tanda, bahwa kisa cinta mereka berdua, mungkin vs tidak mungkin menjadi kenyataan.
lembaran demi lembaran Surat cinta yang dikirimkan, mulai membuka kisah kisah tentang perjalan kehidupan Ramu, mulai dari perpisahannya dengan Kisha, problematika kehidupan keluarga, hingga pencarian identitas diri Ramu. Pencarian identitas diri Ramu, sesunggunya yang menjadi inti dari buku "Surat Cinta untuk Kisha", bahkan pada surat surat terakhir, Ramu untuk Kisha, Pengungkapan identitas Ramu dari panjangnya pencarian, sungguh menjadi kejutan dari buku ini, seakan mengariskan, ini bukanlah buku roman, tapi lebih menjadi Autobiografi dari Ramu.
Bukankah perjalan pencarian jati diri, selalu menjadi kisah menarik untuk dicerna, Lalu bagaimanakah akhir kisah cinta mereka, dan siapakah sebenarnya Ramu ? hingga membuat dirinya divonis hukuman seberat itu? Lalu, bagaimanakah nasib Kisha menghadapi kenyataan demikian ?
saya tak pandai membuat resensi
bekasi
setengah ngantuk
NB
ada
LOMBA MENULIS SURAT #SCUK
loh (cek di webnya ya)
Langganan:
Postingan (Atom)
About Me
- ahmed
- 1.segelas kopi adalah..teman tidur yg paling enak 2.secangkir masalah adalah...teman tidur yg minta di cereiin 3.seperangkat komputer adalah..selingkuhan yg bisa di apaiin aja 4.Setumpuk buku adalah..teman tuk menyingkiran kopi, masalah dan komputer