27.1.14

PKN , alasan penolakan, dan suara yang tak penting

PKN , alasan penolakan, dan suara yang tak penting

21 Januari 2014 pukul 15:12
Disaat kisruh tentang Pekan Kondom Nasional, seorang sahabat memposting status pada jejaring sosialnya, "bahwa penolakan masyarakat akan Pekan Kondom Nasional bisa jadi karena ketidakpahaman masyarakat". Saya tergelitik iseng mengeomentari, "Saya tidak setuju dengan PKN". Kemudian sahabat ini menjawab "ketidak setujuan saya tidak mengubah apapun". Sungguh saya sedikit terdiam, bisa jadi memang penolakan saya tidak mengubah apapun, bisa jadi suara ketidak setujuan saya tidak berati apa. Mungkin bisa jadi suara saya hanya kalangan minor saja, mungkin bisa jadi karena saya bukan siapa - siapa. Bukan seorang aktifis, mau pun tokoh pergerakan, atau bergelut dengan dunia sosial. Dibandingkan dengan rekam jejak aktifitas sahabat saya ini, sungguh lah bagaikan langit dan bumi. Tapi apakkah suara suara minor tidak berati apa-apa?. sungguhnya Anda
salah.

Pertama ada alasan tertentu mengapa saya menolak PKN, saya bersimpati dengan orang yang terjangkit AIDS/HIV, saya setuju dengan pencegahan penularan AIDS/HIV.Tanpa mengenyampingkan niat dan tujuan untuk mengurangi angka penyebaran penyakit HIV/AIDS, cara membagi-bagikan kondom gratis (oleh Komisi Penanggulangan AIDS Nasional) adalah sebuah langkah terakhir, jika tidak dibilang naif, justru yang terpenting adalah untuk tidak memberikan kesempatan untuk melakukan seks bebas. Apapun maksud dan tujuannya, PKN (dalam hal ini pembagian kondom) adalah sebuah langkah yang saya tentang, saya tolak habis habis, bukan hanya menurut saya ini adalah upaya melegalkan hubungan sex bebas, yang jelas - jelas menurut agama yang saya anut adalah sebuah dosa besar. Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang jelek" (Q. S. Al Isra 32).


Bahkan dalam langkah langkah pencegahan AIDS/HIV, Kondom adalah sebuah jalan terkahir. Pencegahan AIDS/HIV, sebenarnya sudah dibuat rule map nya dalam hal ini dikenal dengan "ABC Guidance" (di Indonesia dikenal dengan ABCD) , ABC Guidance yang berarti :
"Abstinence – Tidak berhubungan seks (selibat)" dalam hal ini pencegahan pertama adalah tidak sembarang berhubungan sex (sex bebas)
"Be Faithful – Selalu setia pada pasangan" dan yang terakhir adalah
"Condom – Gunakan kondom di setiap hubungan seks berisiko", untuk indonesia ditambah dengan
"Drugs –  Jauhi narkoba".

Sudah jelas tertera bahwa kondom adalah solusi terakhir,bahkan digariskan dengan peringatan untuk hubungan seks yang berisiko.  Jauh lebih baik untuk tidak memberikan kesempatan untuk melakukan seks bebas. justru, dengan membagi-bagikan kondom - apalagi penyebaran tersebut rentan salah sasaran - hanya akan memudahkan peluang untuk melakukan seks bebas. Sekali lagi, peringatan hari anti HIV/AIDS harus dijalankan sesuai tujuan. Jangan terjebak dengan cara yang justru membuat jalan menempuh tujuan menjadi bias. Negara yang beradab itu mencegah maksiat bukan memfasilitasi maksiat.

Lalu apakah suara minor tidak berpengaruh apa-apa, sungguhnya pernyataan ini adalah sebuah kenaifan belaka, satu suara mungkin bisa jadi belum berati untuk saat ini, tapi siapa yang dapat meramalkan satu tahun kedepan, 5 tahun kedepan, atau bahkan 10 tahun kedepan, satu suara atau suara minoritas ini bisa menjadi suara mayoritas, saya tidak berbicara sembarangan, sungguh jika suara - suara penolakan, suara minoritas, tidak dikelolah dengan baik, tidak diapresiasi, tidak didengar kan, suatu saat ia bisa menjadi mayoritas, sudah banyak buktinya bukan.

ah mungkin saya yang terlalu naif dan berandai-andai, biarlah suatu suara penolakan PKN ini hanya milik saya, biarlah ini tidak berarti apa-apa, apalah saya bukan ?. Biar lah penolakan saya tetap menjadi pendirian saya,buakn karena saya tidak mau mengikuti suara mayoritas, tapi pendirian saya, lebih kepada kepentingan untuk masa depan keluarga saya. Lalu siapa tahu keluarga kecil saya akan ikut serta dengan pendirian saya. Maka dengan ini sudah bertambah juga suara penolakan PKN, Bukan.


Percaya lah kebenaran pasti menang, walau sekecil apa pun, dan walau diwaktu yang akan datang.
jangan pernah meremehkan suara minor, walau ia bukan siapa-siapa

Sebuah lirik lagu sangat mewakili semangat tentang suara minor yang terabaikan

"Coretan dinding membuat resah
Resah hati pencoret Mungkin ingin tampil
Tapi lebih resah pembaca coretannya
Sebab coretan dinding
Adalah pemberontakan kucing hitam
Yang terpojok ditiap tempat sampah, ditiap kota
Cakarnya siap dengan kuku kuku tajam
Matanya menyala mengawasi gerak musuhnya
Musuhnya adalah penindasYang menganggap remeh coretan dinding kota
Coretan dinding terpojok di tempat sampah
Kucing hitam dan penindas sama sama resah"

Iwan Fals Coretan Dinding


ahmed
hamba sahaja
penikmat es teh manis dikala hujan
liverpool 2-2 Aston Villa



Sumber Literatur

PKN akhirnya dihentikan, "Kita berhasil " :) Selamat! pekan kondom 2013 telah dihentikan. semoga tahun berikutnya tidak ada lagi penceradasan Aids yang semacam pekan kondom.(dengan 3.513 pendukung)>> http://www.change.org/id/petisi/komisi-penanggulangan-aids-nasional-hentikan-pekan-kondom-nasional-di-indonesia


Menkes dan PKN
http://nasional.sindonews.com/read/2013/12/02/15/812461/kemenkes-pekan-kondom-nasional-bukan-program-pemerinta
hhttp://www.bbc.co.uk/indonesia/berita_indonesia/2013/12/131203_pekankondom.shtml


ABC Guidance

http://www.state.gov/documents/organization/57241.pdfhttp://www.aidsindonesia.or.id/contents/37/78/Info-HIV-dan-AIDS#sthash.EUwKTld8.dpbs
http://promkes.depkes.go.id/site/akubanggaakutahu/tips-untuk-mencegah-virus-hiv-aids/
http://en.wikipedia.org/wiki/Abstinence,_be_faithful,_use_a_condom
http://whqlibdoc.who.int/publications/2011/9789241501651_eng.pdf?ua=1


contoh suara minor
Revolusi Tunisia
Rangkaian unjuk rasa ini dimulai Desember 2010 setelah seorang pedagang buah dan sayur membakar dirinya sendiri sesudah polisi menyita dagangannya dengan alasan tidak memiliki izin
http://id.wikipedia.org/wiki/Revolusi_Tunisia
http://id.wikipedia.org/wiki/Kebangkitan_dunia_Arab

27.8.13

sini situ II

Saya bisa ini,ini, dan banyak ini lagi
Tapi belum tentu saya bisa itu, itu dan banyak itu lagi
Lalu apa ini, ini pantas dibangakan, sedangkan itu, itu, itu masih bnyk itu yg lain
Ini itu bukan hal yg disombong
Ini atau itu, boleh lah dibangakan
Karena si itu belum tentu bisa
Yang si ini bisa, begitu juga sebaliknya
ini dan itu seharusnya saling melengkapkan
Biar menjadi sini situ
Atau situ sini

#ini itu cuma iseng sini saja situ jng ikut2 atuh :@

sini situ

Pada suatu hari saya bertemu dengan siini
Siini bercerita tentang siitu
Mulai dari hal ini, ini, sampai itu itu
Tentang siitu
Pada hari yang lain saya bertemu dengan siitu
Siitu bercerita tentang siini
Mulai dari hal itu,itu sampai ini, ini
Tentang siini
Lalu saya bingung apa kah pada hari itu,ini, saya bertemu dengan siini atau siitu
Atau saya yang telah menjadi siini, siitu
Yang berbicara tentang siini ataau siitu

#situ suka ngomong tentang siini kan, sini juga sama senang ngomongin siitu ko :@

4.4.13

Ayat-Ayat Api: Kumpulan Sajak


Ayat-Ayat Api: Kumpulan Sajak


Pengantar

Kumpulan sajak ini terdiri atas tiga bagian. Bagian pertama berisi sejumlah sajak — yang sudah diubah di sana-sini, yang pernah dimuat dalam Sihir Hujan, Kuala Lumpur, 1984. Bagian kedua adalah sejumlah sajak yang pernah terbit terbatas dalam rangka pembacaan puisi di Pusat Kebudayaan Jepang, 1998. Bagian ketiga adalah sejumlah sajak yang ditulis tahun 1998-1999, belum pernah terbit sebagai buku.

Saya sampaikan terima kasih kepada Pustaka Firdaus yang bersedia menerbitkan buku ini dengan pertimbangan, antara lain, bahwa tahun ini saya — alhamdulilah — sudah berumur 60 tahun.
Sapardi Djoko Damono

********

Sunyi Yang Lebat

sunyi yang lebat: ujung-ujung jari
sunyi yang lebat: bola mata dan gendang telinga
sunyi yang lebat: lidah dan lubang hidung
sunyi yang dikenal sebagai hutan: pohon-pohon yang roboh,

margasatwa membusuk di tepi sungai kering, para
pemburu mencari jejak pancaindra...


Pada Suatu Magrib

Susah benar menyeberang jalan di Jakarta ini;
hari hampir magrib, hujan membuat segalanya tak tertib.
Dan dalam usia yang hampir enam puluh ini,
astagfirulah! rasanya di mana-mana ajal mengintip


Tentu. Kau Boleh

Tentu. Kau boleh saja masuk,
masih ada ruang
di sela-sela butir-butir darahku.
Tak hanya ketika rumahku sepi,
angin hanya menyentuh gorden,
laba-laba menganyam jaring,
terdengar tetes air keran
yang tak ditutup rapat;
dan di jalan
sama sekali tak ada orang
atau kendaraan lewat.
Tapi juga ketika turun hujan,
air tempias lewat lubang angin,
selokan ribut dan meluap ke pekarangan,
genting bocor dan aku capek
menggulung kasur dan mengepel lantai.
Tentu. Kau boleh mengalir
di sela-sela butir darahku,
keluar masuk dinding-dinding jantungku,
menyapa setiap sel tubuhku.
Tetapi jangan sekali-kali
pura-pura bertanya kapan boleh pergi
atau seenaknya melupakan
percintaan ini.
Sampai huruf terakhir
sajak ini, Kau-lah yang harus
bertanggung jawab
atas air mataku.

Dalam Setiap Diri Kita

Dalam setiap diri kita, berjaga-jaga
segerombolan serigala.
Di ujung kampung, lewat pengeras suara,
para kyai menanyai setiap selokan,
setiap lubang di tengah jalan,
dan setiap tikungan;
para pendeta menghardik setiap pagar,
setiap pintu yang terbuka,
dan setiap pekarangan.
Gamelan jadi langka. Di keramaian kota
kita mencari burung-burung
yang diusir dari perbukitan
dan suka bertengger sepanjang kabel listrik,
yang mendadak lenyap begitu saja
sejak sering terdengar
suara senapan angin orang-orang berseragam itu.
Entah kena sawan apa, rombongan sulap itu
membakar kota sebagai permainannya.

DONGENG MARSINAH

/1/
Marsinah buruh pabrik arloji,
mengurus presisi:
merakit jarum, sekrup, dan roda gigi;
waktu memang tak pernah kompromi,
ia sangat cermat dan pasti.

Marsinah itu arloji sejati,
tak lelah berdetak
memintal kefanaan
yang abadi:
“kami ini tak banyak kehendak,
sekedar hidup layak,
sebutir nasi.”

/2/
Marsinah, kita tahu, tak bersenjata,
ia hanya suka merebus kata
sampai mendidih,
lalu meluap ke mana-mana.
“Ia suka berpikir,” kata Siapa,
“itu sangat berbahaya.”

Marsinah tak ingin menyulut api,
ia hanya memutar jarum arloji
agar sesuai dengan matahari.
“Ia tahu hakikat waktu,” kata Siapa,
“dan harus dikembalikan
ke asalnya, debu.”

/3/
Di hari baik bulan baik,
Marsinah dijemput di rumah tumpangan
untuk suatu perhelatan.
Ia diantar ke rumah Siapa,
ia disekap di ruang pengap,
ia diikat ke kursi;
mereka kira waktu bisa disumpal
agar lenkingan detiknya
tidak kedengaran lagi.

Ia tidak diberi air,
ia tidak diberi nasi;
detik pun gerah
berloncatan ke sana ke mari.

Dalam perhelatan itu,
kepalanya ditetak,
selangkangnya diacak-acak,
dan tubuhnya dibirulebamkan
dengan besi batangan.

Detik pun tergeletak
Marsinah pun abadi.

/4/
Di hari baik bulan baik,
tangis tak pantas.
Angin dan debu jalan,
klakson dan asap knalpot,
mengiringkan jenazahnya ke Nganjuk.
Semak-semak yang tak terurus
dan tak pernah ambil peduli,
meregang waktu bersaksi:

Marsinah diseret
dan dicampakkan —
sempurna, sendiri.

Pangeran, apakah sebenarnya
inti kekejaman? Apakah sebenarnya
sumber keserakahan? Apakah sebenarnya
azas kekuasaan? Dan apakah ebenarnya
hakikat kemanusiaan, Pangeran?

Apakah ini? Apakah itu?
Duh Gusti, apakah pula
makna pertanyaan?

/5/
“Saya ini Marsinah,
buruh pabrik arloji.
Ini sorga, bukan? Jangan saya diusir
ke dunia lagi; jangan saya dikirim
ke neraka itu lagi.”

(Malaikat tak suka banyak berkata,
ia sudah paham maksudnya.)



apa sebaiknya menggelinding saja
bagai bola sodok,
bagai roda pedati?”


(Malaikat tak suka banyak berkata,
ia biarkan gerbang terbuka.)

“Saya ini Marsinah, saya tak mengenal
wanita berotot,
yang mengepalkan tangan,
yang tampangnya garang
di poster-poster itu;
saya tidak pernah jadi perhatian
dalam upacara, dan tidak tahu
harga sebuah lencana.”

(Malaikat tak suka banyak berkata,
tapi lihat, ia seperti terluka.)

/6/
Marsinah itu arloji sejati,
melingkar di pergelangan
tangan kita ini;
dirabanya denyut nadi kita,
dan diingatkannya
agar belajar memahami
hakikat presisi.

Kita tatap wajahnya
setiap hari pergi dan pulang kerja,
kita rasakan detak-detiknya
di setiap getaran kata.

Marsinah itu arloji sejati,
melingkar di pergelangan
tangan kita ini.

(1993-1996)


Ayat yang mengandung banyak kemuraman, kemarahan, kesediahan
"Api adalah lambang kehidupan, itu sebabnya kita luluhlantak/ dalam kobarannya (p.133)

3.4.13

Catatan Subversif


Membaca kumpulan sajak "Catatan Subversif" Saut Situmorang, seakan merefleksi lagi perjalan - perjalan yang telah di lalui Negeri ini maupun pengalaman pribadi dari Saut Situmorang. Sajaknya menangkap peristiwa - peristiwa yang telah terjadi dan masih terjadi. Ini adalah kumpulan realitas yang di bingkai kata -kata dan dituturkan dengan gaya bercerita yang unik,khas dan "keras", walaupun setiap sajak penuh dengan muatan tapi tetap bisa disampaikan dengan "indah"bahkan bisa jadi menyentuh pembacanya.




1966
untuk Jimi Hendrix

dimalam aku lahir
bulan merah api
dan hujan turun
langit merah basah
bumi merah basah

orang orang menangis
orang orang marah
dan orang orang ketakutan

dimalam aku lahir
anjing anjing setan bergentayangan di jalan
mendobrak rumah rumah
dan membunuh dan membunuh dan
membunuh

bulan merah api
malam merah api
rumah rumah dicat merah darah
jalanan merah darah
sungai sungai merah darah
danau danau merah darah

dan mayat mayat rusak terapung
di sungai sungai danau danau merah darah
di bawah hujan merah darah

dimalam aku lahir


21.3.13

Surat Cinta untuk Kisha



Surat Cinta untuk Kisha
by Bintang Berkisah

Spoiler 
Bintang Berkisah, terima kasih untuk kiriman bukunya ditunggu kiriman berikutnya. 

kebetulan saya mengenal nama sebenarnya dari pemilik akun twitter @bintangberkisah,walaupun saya bukanlah penganut mahzab twitter, justru saya mengenal beliau dari media sosial facebook yang saya anut mahzabnya. 
saya tahu beliau ini hobi dengan dunia tulis menulis (kumpulan tulisannya bisa dilihat dihttp://bintangberkisah.wordpress.com/), kicauannya pun selalu menegenai dunia tulisan, dan juga aktif mengadakan lomba tulis menulis. 

******

Surat Cinta untuk Kisha, ini 

sebenarnya merupakan kumpulan tulisan yang memang dibuat untuk mengikuti salah satu ajang lomba tulis menulis.

Surat Cinta untuk Kisha, sebuah kumpulan serangkaian surat cinta yang dikirimkan "Aku" (Ramu), kepada wanita idaman hatinya sejak masa kanak - kanak (Kisha). Kumpulan surat yang ada merupakan refleksi perjalanan hidup Ramu.

Surat pertama diawali dari kisah perjumpaan pertama kali Ramu dengan Kisha. Ramu yang disinidikisahkan sebagai anak desa yang hidup dengan segala kesederhanaan yang ada, sedangkan Kisha sendiri berasal dari keluarga yang berada, dan karena satu dua alasan mereka terpaksa tinggal didesa. Bagi Kisha desa adalah kehidupan serba baru yang pertama kali dialami, dan tapi selalu Ramu menjadi selalu menjadi pendamping setia, mengajarkan kehidupan pedesaan. Ramu belajar mengungkapkan perasaan cintanya yang diawali oleh rasa persahabatan.

Benturan kaya vs miskin, kota vs desa, islam vs kristen, seakan menjadi tanda tanda, bahwa kisa cinta mereka berdua, mungkin vs tidak mungkin menjadi kenyataan.


lembaran demi lembaran Surat cinta yang dikirimkan, mulai membuka kisah kisah tentang perjalan kehidupan Ramu, mulai dari perpisahannya dengan Kisha, problematika kehidupan keluarga, hingga pencarian identitas diri Ramu. Pencarian identitas diri Ramu, sesunggunya yang menjadi inti dari buku "Surat Cinta untuk Kisha", bahkan pada surat surat terakhir, Ramu untuk Kisha, Pengungkapan identitas Ramu dari panjangnya pencarian, sungguh menjadi kejutan dari buku ini, seakan mengariskan, ini bukanlah buku roman, tapi lebih menjadi Autobiografi dari Ramu.


Bukankah perjalan pencarian jati diri, selalu menjadi kisah menarik untuk dicerna, Lalu bagaimanakah akhir kisah cinta mereka, dan siapakah sebenarnya Ramu ? hingga membuat dirinya divonis hukuman seberat itu? Lalu, bagaimanakah nasib Kisha menghadapi kenyataan demikian ?




saya tak pandai membuat resensi
bekasi 
setengah ngantuk

NB 
ada 
LOMBA MENULIS SURAT #SCUK
loh (cek di webnya ya)

1.8.12

Untuk Mencintaimu Sederhana Saja, benarkah ?

Sesungguhnya kisah cinta yang paling dahsyat adalah yang terjadi pada kita sendiri, 
bagaimana pun jalannya.


Siapa yang tak pernah jatuh cinta ???

Bicara mengenai Cinta memang tak akan pernah ada habisnya, Setiap individu pasti pernah mengalami jatuh Cinta, Walaupun  cinta kadang kala menggalami penyempitan makna. Cinta itu lebih luas dari pada yang kita pahami semata. Cinta bisa diartikan sebagai kisah antara orang tua dan anak, sahabat, keluarga, kakak dan adik, bahkan mengenahi hubungan kita dengan Sang pencipta

“Cinta bukan aku, cinta bukan kamu, cinta bukan apa atau siapa. Tapi cinta adalah tentang semuanya” (hal 91)

Masalah cinta memang sungguh sanggat tidak sederhana, tidak hanya dari massa awal saling kenalan, bahkan ketika kita telah menggikat janji, massalah cinta tidak akan pernah berhenti rasanya.  “Cinta itu memang gila” bukan, diwaktu yang terpisah seorang penyair pernah berkata

 “Cinta seperti penyair berdarah dingin
Yang pandai menorehkan luka.
Rindu seperti sajak sederhana yang tak ada matinya.”

 Joko Pinurbo, Pacar Senja

Membaca buku Untuk Mencintai Sederhana Saja, seakan mengajak kita untuk berusaha memaknai kembali “apa itu cinta? “.

Bagaimana jika cerita cinta dihadapkan pada kenyataan, bahwa ada jarak ribuan kilometer yang memisahkan sebuah kisah cinta , apakah akan bertahan atau jarak semakin memisahkan. Kisah sebuah pertemuaan secara tidak sengaja bisa saja menghadirkan sebuah cerita cinta yang baru.

Bahkan Kehilangan ,Luka, kangen,  merupakan bagian dari proses pencarian arti cinta itu sendiri, bahkan menjadi bumbu bumbu  perjalan cinta jika kita dapat menerimanya.

Apakahkan kita kan berhenti mencari cinta? 

“Jatuh cinta itu seperti kecelakaan. Kita tidak pernah tahu kapan dan dengan siapa itu akan terjadi. Cintaitu unik, meskipun sifatnya universal. Penggalaman cinta bisa bersifat spiritual untuk invidu yang berbeda” (hal 23)


Pada beberapa bagian cerita  kita akan diajak, bahwa usaha memaknai cinta adalah sebuah proses perjalanan panjang yang harus kita nikmati,bahkan tidak akan berhenti sekalipun kita telah menemukannya

 “Yang paling menarik dari sebuah perjalanan adalah pertemuan, untuk mencari jawab dari setiap Tanya yang diutarakan atau sekedar saling mendengarkan.Pertemuan melagukan irama yang tidak hanya sekedar ia berdendang tanpa tabuh gendang, ia apik tanpa harus menyusun topik” (hal 39)

Lewat Untuk Mencintai Sederhana Saja, mengingatkan bahwa serumit apapun urusan cinta dan mencintai , tetap merupakan cinta sebuah hal yang “sederhana”. Cinta tetap saja merupakan cerita hubungan  personal antar "aku" dan "kamu", dimana ketika "Aku" membutuhkan kehadiran "Kamu", "Kamu" juga membutuhkan kehadian "Ku". Hubungan personal seperti ini bukan dilandasi utnuk saling mengikat, tapi untuk saling memenuhi kebutuhan kita

“Pada dasarnya adalah membebaskan bukan mengikat, Dengan begitu kita menghargai dan memaknai arti kehadiran”

Cinta memang rumit, dan bahkan terkesan begitu naïf jika hendak disederhanakan, tetapi bukan kan ini masalah hubungan personal jadi silakan saja setiap individu bebas mengartikannya.

Yang pasti “Aku inggin menjadi orang yang mencintaimu” “sederhana saja”

Untuk Mencintai Sederhana Saja, Benarkah ?
Temukan sendiri kisah cinta mu,
Sesungguhnya kisah cinta yang paling dahsyat adalah yang terjadi pada kita sendiri, 
bagaimana pun jalannya.

Untuk Mencintaimu Sederhana Saja
----------------------------------------------------------------------------------------------------
Secara keseluruhan cerita yang ada sangat beragam jenisnya. Setiap kisah  menawarkan cerita yang berbeda.  Latar belakang juga berbeda. Masalah yang berbeda. Walapun garis besarnya tetap sama C.I.N.T.A
Ada beberapa hal yang sedikit menggangu saya dalam menikmati buku UMSS. Tidak ada kaki buku yang menjelaskan mengenai kutipan, atau tokoh yang dikutip kalimatnya.  Dan gaya penulisan yang cenderung hiperbola  justru kadang kala menjebak dan menghilangkan makna tulisan tersebut.



Sekilas penulis
Turasih, lahir di Banjarnegara 22 tahun yang lalu
Penikmat membaca, traveling
Pengkicau di @turasih90
Dikenal  oleh beberapa temannya
Sebagai seorang perempuan Dieng  yang “Berkarakter”
Entah lah saya belum pernah tatap muka
Jika nanti bertatap muka
Saya hendak bertanya
“Tur, sedang kangan sama siapa ?”
eeahh


om
Bekasi - Ujung Dunia lain
Terima kasih kiriman bukunya

28.5.12

Hatta, Tan Malaka, dan Masa Depan Membaca

Hatta dan Tan Malaka adalah dua manusia pencinta buku. Namun, keduanya sedikit berbeda nasib dalam keterikatannya dengan buku. Tan Malaka, sebagai buronan politik, tak bisa membawa buku-bukunya dalam pelarian sehingga terpaksa membuang buku-bukunya. Hatta, meski dibuang ke Banda Naira, tetap bisa membawa berpeti-peti buku. Maka, jika ditanyakan kepada kedua orang itu apa pendapat mereka tentang e-book versus buku cetak konvensional terhadap masa depan membaca, tentu akan menarik.
Dalam pendahuluan magnum opus-nya, Madilog, Tan Malaka mengenang pembuangan Leon Trotzky ke Alma Ata dan pembuangan Muhammad Hatta. Dua tokoh pencinta buku itu membawa buku berpeti-peti ke tempat pembuangan mereka. ”Saya maklumi sikap kedua pemimpin itu dan sebetulnya saya banyak menyesal karena tak bisa berbuat begitu dan selalu gagal kalau mencoba berbuat begitu,” kata Tan Malaka.
Saya membayangkan Tan Malaka mungkin akan senang dan terbantu dengan e-book berikut perkakas pembacanya. Dengan perkakas itu, Tan Malaka bisa membawa ratusan, bahkan ribuan, buku dalam genggaman. Sementara Hatta, saya membayangkan, tak begitu antusias dengan e-book. Bagi Hatta, buku (cetak) adalah benda sakral dalam hidupnya. Mungkin ia tak akan menemukan sakralitas buku dalam e-book. Di sana tak ada material, kenangan, sejarah, posisi ruang sebuah buku untuk ditata rapi, bau buku, coretan para pembaca, atau tanda tangan asli penulis.
 ”Membaca adalah pengalaman tersendiri, ditandai tegangan antara teks dan keadaan badan serta jiwa pembaca. Kian kuat dan mantap tegangan itu, menjadi kian ’fungsional’ teks itu,” tulis Ronald Barker dan Robert Escarpit (1976:156). Saya pikir, Hatta merasakan pengalaman itu. Karakter ”e-book” E-book hampir seperti benda yang tidak ada, yang bisa diraba, disentuh, dipegang, dan dipandang. E-book adalah benda maya. Saat manusia memegang iPad, misalnya, masihkah ia sadar bahwa ia memegang buku? Buku, dalam pengertian konvensional, hilang.
E-book nyaris tak menghadirkan tubuh material buku di hadapan manusia. E-book hendak mengelak dari sejarah dan selalu memosisikan diri dalam sebuah rumah kaca. Hendak mengelak ruang dan waktu serta akan selalu baru saat dibuka. Tak ada bekas sentuhan manusia, tempat manusia menaruh sejarah. Rasanya, e-book tak mungkin melahirkan manusia protektif terhadap buku. Diceritakan dalam buku Bung Hatta, Pribadinya dalam Kenangan. Saat menguji pemahaman satu buku yang dipinjam keponakannya, Hasyim Ning, Hatta menemukan halaman dilipat. Hatta marah dan meminta Hasyim mencari dan mengganti buku itu. Di seluruh Jakarta tak ada buku itu. Saat Hasyim pulang, Hatta tersenyum.
Begitulah Hatta mengajari orang untuk menjaga dan menghormati buku. E-book juga tak akan melahirkan manusia sentimental terhadap buku dan perpustakaan seperti Nobelis Sastra 2010, Mario Vargas Llosa. ”Belum pernah saya alami perasaan dikhianati dan kesepian macam ini sejak berumur lima tahun,” kata Llosa (2007), saat melihat pemugaran dan penghilangan ruang di British Museum, ruang ia membaca-menulis dan mengenang ruang membaca Karl Marx. Teknologi membaca Bagi orang yang optimistis, e-book barangkali memang bisa mewujudkan impian UNESCO dalam Piagam Buku. Pada tanggal 22 Oktober 1971, UNESCO mengeluarkan Piagam Buku di Brussels, Belgia. Pasal pertamanya berbunyi: ”Setiap orang berhak membaca”, yang diangkat jadi tema pencanangan Tahun Buku Internasional 1972, yakni ”Buku untuk Semua Orang”.
Saat ini, banyak perguruan tinggi, pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, dan perseorangan mulai memberi e-book gratis dalam dunia maya. Penjualan e-book juga terus meningkat. Terjadi digitalisasi buku dan perpustakaan maya yang pesat. Namun, pertanyaannya, apakah perkembangan teknologi dan pemasaran itu dengan sendirinya akan membawa perkembangan pada budaya baca? Secara kuantitatif-historis, meski belum ada penelitian yang komprehensif dan nasional, bisa dikatakan perkembangan budaya membaca buku cetak bangsa ini masih tak berkembang. Taufik Abdullah (2001), Goenawan Mohamad (2001), Idi Subandy Ibrahim (2007), Jakob Oetama (2009), untuk menyebut beberapa saja, menulis bahwa budaya membaca bangsa ini tak tumbuh baik.
Perlu diperhatikan, yang terjadi adalah perkembangan teknologi cetak/tulis, bukan teknologi membaca (kalau boleh disebut demikian). Sejak aksara ditemukan dan digunakan manusia, setidaknya terjadi empat kali revolusi cetak. Saat ditemukan kertas oleh Ts’ai Lun, saat ditemukan mesin cetak massal pertama oleh Gutenberg, saat terjadi ”revolusi paperback”, dan saat pendiri Gutenberg Project, Micheal Hart, pada 1971 membuat e-book pertama di dunia untuk naskah The United States Declaration of Independence.
Apakah revolusi e-book akan membawa revolusi membaca? Jawabannya, seperti penelitian Ronald Barker dan Robert Escarpit (1976:166) untuk UNESCO dalam buku The Hunger Book, ”Walaupun tercapai kemajuan dan penyebarluasan pendidikan di negara-negara maju, buku masih juga terasing bagi sebagian besar rakyatnya; kemajuan teknis, yang berlangsung hampir lima abad sejak ditemukan dan dikembangkan percetakan, yang telah memungkinkan berkembang biaknya buku, tidaklah diikuti kemajuan yang memadai dalam perkembangan sikap-sikap kejiwaan [budaya membaca].” Anda?

[dikutip dari Kompas oleh Amang "Moderator Group -Bersejarah- GoodReads"]

About Me

Foto saya
1.segelas kopi adalah..teman tidur yg paling enak 2.secangkir masalah adalah...teman tidur yg minta di cereiin 3.seperangkat komputer adalah..selingkuhan yg bisa di apaiin aja 4.Setumpuk buku adalah..teman tuk menyingkiran kopi, masalah dan komputer