28.5.12

Hatta, Tan Malaka, dan Masa Depan Membaca

Hatta dan Tan Malaka adalah dua manusia pencinta buku. Namun, keduanya sedikit berbeda nasib dalam keterikatannya dengan buku. Tan Malaka, sebagai buronan politik, tak bisa membawa buku-bukunya dalam pelarian sehingga terpaksa membuang buku-bukunya. Hatta, meski dibuang ke Banda Naira, tetap bisa membawa berpeti-peti buku. Maka, jika ditanyakan kepada kedua orang itu apa pendapat mereka tentang e-book versus buku cetak konvensional terhadap masa depan membaca, tentu akan menarik.
Dalam pendahuluan magnum opus-nya, Madilog, Tan Malaka mengenang pembuangan Leon Trotzky ke Alma Ata dan pembuangan Muhammad Hatta. Dua tokoh pencinta buku itu membawa buku berpeti-peti ke tempat pembuangan mereka. ”Saya maklumi sikap kedua pemimpin itu dan sebetulnya saya banyak menyesal karena tak bisa berbuat begitu dan selalu gagal kalau mencoba berbuat begitu,” kata Tan Malaka.
Saya membayangkan Tan Malaka mungkin akan senang dan terbantu dengan e-book berikut perkakas pembacanya. Dengan perkakas itu, Tan Malaka bisa membawa ratusan, bahkan ribuan, buku dalam genggaman. Sementara Hatta, saya membayangkan, tak begitu antusias dengan e-book. Bagi Hatta, buku (cetak) adalah benda sakral dalam hidupnya. Mungkin ia tak akan menemukan sakralitas buku dalam e-book. Di sana tak ada material, kenangan, sejarah, posisi ruang sebuah buku untuk ditata rapi, bau buku, coretan para pembaca, atau tanda tangan asli penulis.
 ”Membaca adalah pengalaman tersendiri, ditandai tegangan antara teks dan keadaan badan serta jiwa pembaca. Kian kuat dan mantap tegangan itu, menjadi kian ’fungsional’ teks itu,” tulis Ronald Barker dan Robert Escarpit (1976:156). Saya pikir, Hatta merasakan pengalaman itu. Karakter ”e-book” E-book hampir seperti benda yang tidak ada, yang bisa diraba, disentuh, dipegang, dan dipandang. E-book adalah benda maya. Saat manusia memegang iPad, misalnya, masihkah ia sadar bahwa ia memegang buku? Buku, dalam pengertian konvensional, hilang.
E-book nyaris tak menghadirkan tubuh material buku di hadapan manusia. E-book hendak mengelak dari sejarah dan selalu memosisikan diri dalam sebuah rumah kaca. Hendak mengelak ruang dan waktu serta akan selalu baru saat dibuka. Tak ada bekas sentuhan manusia, tempat manusia menaruh sejarah. Rasanya, e-book tak mungkin melahirkan manusia protektif terhadap buku. Diceritakan dalam buku Bung Hatta, Pribadinya dalam Kenangan. Saat menguji pemahaman satu buku yang dipinjam keponakannya, Hasyim Ning, Hatta menemukan halaman dilipat. Hatta marah dan meminta Hasyim mencari dan mengganti buku itu. Di seluruh Jakarta tak ada buku itu. Saat Hasyim pulang, Hatta tersenyum.
Begitulah Hatta mengajari orang untuk menjaga dan menghormati buku. E-book juga tak akan melahirkan manusia sentimental terhadap buku dan perpustakaan seperti Nobelis Sastra 2010, Mario Vargas Llosa. ”Belum pernah saya alami perasaan dikhianati dan kesepian macam ini sejak berumur lima tahun,” kata Llosa (2007), saat melihat pemugaran dan penghilangan ruang di British Museum, ruang ia membaca-menulis dan mengenang ruang membaca Karl Marx. Teknologi membaca Bagi orang yang optimistis, e-book barangkali memang bisa mewujudkan impian UNESCO dalam Piagam Buku. Pada tanggal 22 Oktober 1971, UNESCO mengeluarkan Piagam Buku di Brussels, Belgia. Pasal pertamanya berbunyi: ”Setiap orang berhak membaca”, yang diangkat jadi tema pencanangan Tahun Buku Internasional 1972, yakni ”Buku untuk Semua Orang”.
Saat ini, banyak perguruan tinggi, pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, dan perseorangan mulai memberi e-book gratis dalam dunia maya. Penjualan e-book juga terus meningkat. Terjadi digitalisasi buku dan perpustakaan maya yang pesat. Namun, pertanyaannya, apakah perkembangan teknologi dan pemasaran itu dengan sendirinya akan membawa perkembangan pada budaya baca? Secara kuantitatif-historis, meski belum ada penelitian yang komprehensif dan nasional, bisa dikatakan perkembangan budaya membaca buku cetak bangsa ini masih tak berkembang. Taufik Abdullah (2001), Goenawan Mohamad (2001), Idi Subandy Ibrahim (2007), Jakob Oetama (2009), untuk menyebut beberapa saja, menulis bahwa budaya membaca bangsa ini tak tumbuh baik.
Perlu diperhatikan, yang terjadi adalah perkembangan teknologi cetak/tulis, bukan teknologi membaca (kalau boleh disebut demikian). Sejak aksara ditemukan dan digunakan manusia, setidaknya terjadi empat kali revolusi cetak. Saat ditemukan kertas oleh Ts’ai Lun, saat ditemukan mesin cetak massal pertama oleh Gutenberg, saat terjadi ”revolusi paperback”, dan saat pendiri Gutenberg Project, Micheal Hart, pada 1971 membuat e-book pertama di dunia untuk naskah The United States Declaration of Independence.
Apakah revolusi e-book akan membawa revolusi membaca? Jawabannya, seperti penelitian Ronald Barker dan Robert Escarpit (1976:166) untuk UNESCO dalam buku The Hunger Book, ”Walaupun tercapai kemajuan dan penyebarluasan pendidikan di negara-negara maju, buku masih juga terasing bagi sebagian besar rakyatnya; kemajuan teknis, yang berlangsung hampir lima abad sejak ditemukan dan dikembangkan percetakan, yang telah memungkinkan berkembang biaknya buku, tidaklah diikuti kemajuan yang memadai dalam perkembangan sikap-sikap kejiwaan [budaya membaca].” Anda?

[dikutip dari Kompas oleh Amang "Moderator Group -Bersejarah- GoodReads"]

25.5.12

Sesuatu yang menjadi pertemuan


Jika saja diantara kita ada yang berniat mencatat. Berapa banyak pertemuan yang telah kita lalui. Aku mungkin tak ambil pusing. Pertemuan - pertemuan kita begitu ringkas. Walau kadangkala begitu menyiksa. Kita tak pernah mau terbawa waktu. Waktu yang beku. Kita yang duduk bertemu muka. Membuang pandang pada tatapan yang asing. Selalu saja membicarakan banyak hal yang hadir pada masa lampau. Dan meniadakan masa depan yang berlalu lalang pada benak kita masing - masing. Atau di satu ketika. Ketika pertemuan entah yang keberapa. Kita menyaksikan hujan yang turun perlahan dari bingkai jendela. Tak ada kata yang terucap. Kita larut pada pikiran masing - masing. Hanyut terbawa hujan. Waktu yang melaju sendiri terbuai begitu saja. Tapi kita tak ingat bahkan tak bisa menceritakannya kembali. Tanpa kita sadari. Pertemuan pertemuan menjadi candu. Tubuh kita tercabik tak berdaya. Sementara pada saat yang sama. Kita tak mau terbawa waktu. Kita hanya tak bisa. Mungkin juga karena kita belum terbiasa. Pertemuan yang ringkas telah mengajarkan kita banyak hal. Mengajarkan kerinduan tetang masa lalu. Hingga akhirnya pertemuan yang ringkas perlahan mulai menyiksa kita. Membuat kita menyadari banyak hal. Mungkin kita harus kembali. Disaat waktu tak membawa kita pada sebuah pertemuan. Jika saja diantara kita ada mau berbicara. Begitu banyak hal yang membuat pertemuan kita menjadi beku. Tapi kita saling menjaga. dan membiarkannya menjadi masa lalu. Kita tak mau ambil pusing.Tubuh kita mungkin sudah lelah. Berbicara yang menghasilkan luka. Semua orang pernah mengalami pertemuan. Berapa singkatnya kita yang mengatur. Aku, Kamu, Kita, mungkin pernah saling bertemu, lalu mulai saling mengenal, membagi cerita. Sedih. Duka. Bahkan Bahagia. Pertemuan selalu mengandung perpisahan. Suka atau tidak suka. Kita pasti melaluinya. Jika saja diantara kita ada yang berniat memahami, makna tersembunyi pada sebuah pertemuan dan perpisahan. Tak pernah ada yang salah dari sebuah perpisahan, sama seperti tak ada yang salah dengan pertemuan. Aku, Kamu, Kita pernah berjumpa. Aku, Kamu, Kita dan semua pernah berpisah  

 Sudah berapa lama kita tak duduk bertatap muka?.  

Kini aku menikmati hujan yang turun dari bingkai jendelaku. Yang perlahan lahan. Membanjiri perkarangan rumahku. 

2004-2012

21.5.12

Gaga atau Gaga(L) :P


Saya tidak mau memperdebatkan jadi atau tidak nya Lady Gaga Tampil di Indonesia. Biarkan Pihak yang berwenang menentukan, saya cuma mau menyampaikan pendapat pribadi mengenai Fatwa MUI, yang menyebabkan konser Lady Gagal sedikit tergangu.
Sudah hukum wajib, bahwa setiap orang siapa pun itu, ketika mereka mempunyai pengetahuan yang lebih, atau pun sesuatu yang perlu di bagi oleh masyarakat lebih - lebih jika itu mengandung kebaikan, kita sepakat akan hal ini, begitu juga tugas Ulama sebagai cerdik pandai, yang sedikit banyak pengetahuan agamanya, Insya Allah lebih baik dari pada saya, Merupakan tugas pokok mereka untuk menyampaikan sesuatu yang berkaitan dengan nilai keagamaan.
Dan ketika orang mulai banyak berbicara tentang Fatwa yang di keluarkan oleh MUI, terutama mengenai kasus Lady Gaga, Maka seharusnya kita mencerna baik - baik apa arti dari sebuah Fatwa.



Fatwa menurut KBBI adalah 

 (1)jawab (keputusan, pendapat) yg diberikan oleh mufti tt suatu masalah; (2) ki nasihat orang alim; pelajaran baik; petuah



Jadi Fatwa sama dengan Pendapat yang diberikan "Seorang Ahli " bisa juga kita sebut Fatwa adalah Nasihat, Nasihat sendiri mempunyai arti


(1)ajaran atau pelajaran baik; anjuran (petunjuk, peringatan, teguran) yg baik: lebih baik aku turuti -- ibu; beroleh -- dr kepala kantornya; (2) ibarat yg terkandung dl suatu cerita dsb; moral: cerita itu mengandung -- bagi kita sekalian

Jadi Fatwa yang di keluarkan MUI, bisa diartikan secara Harfia adalah sebuah Nasihat, Nasihat yang disampaikan oleh orang - orang yang memahami perkara sebuah permasalahan, baik benar dari sebuah keadaan, Maka Nasihat yang disampaikan oleh mereka menyerupai Nasihat dari orang tua kita, yang sedikit banyak berguna untuk bekal kita. Jika kita mengikuti Nasihat yang insya Allah mengandung kebaikan, maka mudah mudah kita pun mendapatkan kebaikan, jika kita tidak mengikuti nasihat tersebut, maka resiko yang ada adalah tanggung jawab kita masing - masing, baik buruk kita yang menanggung nantinya 

So sebelum mulai mencaci MUI mengenai Fatwa yang mereka keluar kan, lebih baik kita cerna baik - baik Fatwa yang ada, ingat setidaknya mereka yang berada di MUI, insya Allah mengetahu lebih banyak ilmu agama dari pada saya, dan seperti yang saya bilang merupakan tugas orang orang yang lebih mengetahui untuk menyebarluaskan apa yang mereka ketahui, karena setiap ilmu ada sebuah pertanggungjawaban didalam nya



- Wassalamu'alaikum wr.wb -


About Me

Foto saya
1.segelas kopi adalah..teman tidur yg paling enak 2.secangkir masalah adalah...teman tidur yg minta di cereiin 3.seperangkat komputer adalah..selingkuhan yg bisa di apaiin aja 4.Setumpuk buku adalah..teman tuk menyingkiran kopi, masalah dan komputer